MY-TRIP ke Malaysia: dari Sekadar Kunjungan Menjadi Pembelajaran Global Murid
(karya: Ustadz Muhammad Ma’ruf, M.Pd)
Program residensi dan immersion dorong murid memahami sistem pendidikan lintas negara sejak dini
SURABAYA — Perjalanan pelajar ke luar negeri kerap dipandang sebagai wisata edukatif semata. Namun, program MY-TRIP (Malaysia – Young Travelers Residency & Immersion Programme) mencoba melampaui batas tersebut dengan menghadirkan pengalaman belajar berbasis residensi dan pencelupan budaya secara langsung di Malaysia.
Program ini diikuti oleh belasan murid dan dipimpin oleh Kepala Sekolah, Mr. Muhammad Maruf, dengan pendamping Mrs. Siti Maftuchah, serta dukungan teknis dari Ms. Dwina Mustika Kusumawardhany.
“Kami ingin mengubah pola pikir murid, bahwa belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga dari interaksi langsung dengan lingkungan global,” ujar Mr. Muhammad Ma’ruf sebelum keberangkatan.
Dari Juanda ke Kuala Lumpur: Awal Mobilitas Global Pelajar
Kegiatan dimulai pada Minggu pagi pukul 08.00 WIB, saat seluruh peserta berkumpul di Terminal 2 Bandara Internasional Juanda, Surabaya. Proses keberangkatan berlangsung terstruktur, dimulai dari check-in pukul 09.00 WIB, hingga boarding pada pukul 11.30 WIB.
Rombongan kemudian bertolak menggunakan pesawat Batik Air OD353 pada pukul 12.00 WIB dan tiba di Bandara Internasional Kuala Lumpur (KLIA 1) pukul 15.40 waktu setempat. Momentum ini menjadi pengalaman awal mobilitas internasional bagi sebagian peserta. Selain aspek administratif seperti imigrasi, murid juga mulai beradaptasi dengan ritme perjalanan lintas negara.
“Ini pertama kalinya saya merasakan proses perjalanan internasional secara langsung. Banyak hal baru yang bisa dipelajari sejak dari bandara,” kata Ms. Aisha Zahira Allviresy.
Melaka sebagai Laboratorium Sosial dan Budaya
Setelah menyelesaikan proses imigrasi, rombongan melanjutkan perjalanan darat menuju Melaka pada pukul 16.30. Kota ini dipilih bukan tanpa alasan. Melaka dikenal sebagai salah satu pusat sejarah dan pertemuan budaya di Asia Tenggara. Jejak kolonial, keberagaman etnis, serta perkembangan pendidikan modern menjadikan kota ini relevan sebagai lokasi pembelajaran kontekstual.
“Kami memilih Melaka karena memiliki nilai historis dan budaya yang kuat. Ini penting untuk memperkaya perspektif murid,” ujar pendamping, Mrs. Siti Maftuchah. Dalam perjalanan, peserta mulai mengamati perbedaan tata kota dan lingkungan. Infrastruktur yang tertata dan kebersihan kota menjadi kesan awal yang banyak disorot murid.
“Kondisi lingkungannya cukup tertib dan rapi. Ini memberi gambaran nyata tentang bagaimana tata kota dikelola,” ungkap Mr. Fariedz Taufiqurrahman Prayugo.
Dari Wisata ke Immersion: Mengubah Pola Belajar
Program MY-TRIP dirancang tidak berhenti pada kunjungan visual, tetapi mengarah pada pendekatan residency dan immersion. Artinya, murid akan terlibat langsung dalam aktivitas pendidikan di Malaysia melalui metode sit-in, observasi kelas, hingga interaksi budaya. Pendekatan ini sejalan dengan tren pendidikan global yang menekankan experiential learning atau pembelajaran berbasis pengalaman langsung.
“Kami ingin murid tidak hanya melihat, tetapi ikut merasakan dinamika belajar di negara lain,” kata Mr. Muhammad Ma’ruf. Peserta pun menyambut konsep tersebut dengan antusias. “Belajar langsung di lingkungan berbeda pasti membuka cara pandang baru,” ujar Mr. Raihan Dhawaiy Machfoed.
Hari Pertama Ditutup dengan Adaptasi Awal
Rombongan tiba di Melaka pada pukul 19.30 dan melaksanakan makan malam bersama sebagai bagian dari penguatan kebersamaan. Selanjutnya, peserta melakukan check-in di Hallmark Crown Hotel Melaka pada pukul 20.30. Kegiatan hari pertama ditutup dengan waktu istirahat pukul 21.00, sebagai langkah adaptasi awal sebelum memasuki agenda utama program.
Pihak pendamping menekankan pentingnya kesiapan fisik dan mental peserta dalam mengikuti rangkaian kegiatan yang telah disusun. “Program ini cukup intensif. murid perlu menjaga kondisi agar dapat menyerap pengalaman secara maksimal,” ujar Siti Maftuchah.
Investasi Pengalaman dan Perspektif Global
Program MY-TRIP mencerminkan upaya institusi pendidikan dalam menyiapkan generasi yang mampu beradaptasi di tingkat global. Tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga dalam hal budaya, komunikasi, dan cara berpikir. Di tengah tantangan globalisasi, pengalaman lintas negara seperti ini dinilai menjadi investasi penting bagi pengembangan karakter murid.
“Perjalanan ini adalah proses membangun perspektif. Apa yang mereka lihat dan rasakan akan membentuk cara mereka memandang dunia ke depan,” kata Mr. Muhammad Ma’ruf.


