Dari Kelas Perempuan hingga Pegunungan Genting: Hari Ketiga MY-TRIP Perkuat Kolaborasi dan Perspektif Global

Written By :

Category :

news

,

Uncategorized

Posted On :

Share This :

Dari Kelas Perempuan hingga Pegunungan Genting: Hari Ketiga MY-TRIP Perkuat Kolaborasi dan Perspektif Global

(Karya: Ustaz Muhammad Ma’ruf, M.Pd.)

 

Interaksi lintas budaya, pertukaran seni, hingga eksplorasi dataran tinggi menjadi puncak pengalaman immersion siswa

 

KUALA LUMPUR — Hari ketiga program MY-TRIP (Malaysia – Young Travelers Residency & Immersion Program) menandai penguatan kolaborasi pendidikan sekaligus pendalaman pengalaman lintas budaya. Tidak hanya mengikuti kegiatan akademik, peserta juga terlibat dalam pertukaran budaya dan eksplorasi wilayah ikonik Malaysia. Jika hari sebelumnya menekankan adaptasi dan observasi, maka hari ketiga bergerak lebih jauh: membangun interaksi, mengekspresikan identitas budaya, dan membaca lanskap sosial di luar ruang kelas.

“Hari ini siswa tidak hanya belajar, tetapi juga menunjukkan siapa mereka di hadapan dunia,” ujar Kepala Sekolah, Mr. Muhammad Maruf.

Pagi yang Terstruktur: Disiplin sebagai Fondasi Global

Kegiatan dimulai sejak pukul 05.30 dengan morning call, dilanjutkan persiapan keberangkatan ke sekolah. Ritme yang konsisten menjadi bagian dari pembentukan karakter peserta selama program berlangsung. Setelah sarapan pukul 07.00, rombongan bertolak menuju Sekolah Menengah Kebangsaan (P) Bandaraya dan tiba pada pukul 08.30.

Sekolah ini dikenal sebagai institusi pendidikan perempuan yang memiliki tradisi akademik dan budaya yang kuat. Kehadiran peserta MY-TRIP menjadi bagian dari pertukaran pengalaman belajar antarnegara.

Dari Observasi ke Partisipasi: Siswa Mulai “Masuk” ke Sistem

Berbeda dari hari sebelumnya yang lebih bersifat pengenalan, kegiatan di sekolah hari ketiga menunjukkan tingkat keterlibatan yang lebih aktif. Peserta tidak hanya mengamati, tetapi juga mulai berinteraksi dalam kegiatan kelas dan lingkungan sekolah. Dinamika ini mencerminkan keberhasilan pendekatan residency dan immersion yang menjadi inti MY-TRIP.

“Kami tidak lagi merasa sebagai tamu. Rasanya seperti benar-benar menjadi bagian dari sekolah,” ujar Ms. Azzalea Celine Myesha Rosidi. Penggunaan bahasa, pola komunikasi, serta cara belajar yang berbeda menjadi pengalaman yang memperkaya perspektif siswa.

Panggung Budaya: Identitas yang Dipertukarkan

Momentum penting terjadi pada pukul 12.00, saat kegiatan dilanjutkan dengan makan siang bersama, diikuti persembahan kebudayaan dari kedua sekolah. Pertunjukan ini bukan sekadar hiburan, melainkan ruang dialog budaya. Siswa menampilkan identitas masing-masing melalui seni, musik, atau pertunjukan lainnya.

“Kami bangga bisa menampilkan budaya sendiri di hadapan teman-teman dari Malaysia,” ungkap Mr. Vicky Muhammad Kaffi Maulana.

Interaksi ini memperlihatkan bahwa perbedaan budaya bukanlah batas, melainkan jembatan untuk saling memahami. Pendamping kegiatan, Mrs. Siti Maftuchah, menilai sesi ini sebagai salah satu titik paling bermakna dalam program. “Di sinilah siswa belajar menghargai identitas, baik milik sendiri maupun orang lain,” ujarnya.

Closing Ceremony: Simbol Kolaborasi Pendidikan

Pada pukul 13.00, kegiatan ditutup melalui closing ceremony. Acara ini menjadi simbol berakhirnya rangkaian kegiatan akademik sekaligus penegasan hubungan kerja sama antar institusi. Dalam suasana yang hangat, peserta dan pihak sekolah saling bertukar apresiasi dan harapan.

“Kami berharap pengalaman ini tidak berhenti di sini, tetapi menjadi awal dari kolaborasi yang lebih luas,” kata Mr. Muhammad Maruf.

Dari Kota ke Pegunungan: Membaca Malaysia dari Perspektif Berbeda

Usai kegiatan sekolah, peserta melanjutkan agenda city exploration pada pukul 14.00, dimulai dari pengenalan produk lokal hingga perjalanan menuju Genting Highlands. Kawasan dataran tinggi ini dikenal sebagai destinasi wisata unggulan Malaysia, yang menggabungkan alam, hiburan, dan infrastruktur modern. Perjalanan menuju Genting menghadirkan lanskap yang kontras dengan kota—udara yang lebih sejuk, jalan berkelok, serta panorama pegunungan.

“Perjalanan ke sini membuka sisi lain Malaysia yang sebelumnya tidak kami bayangkan,” ujar Mr. Tristan Perdana Arya.Eksplorasi ini menjadi bagian dari pembelajaran kontekstual:   bagaimana suatu negara mengelola potensi wisata dan ekonominya.

Menutup Hari dengan Refleksi Perjalanan

Setelah makan malam pada pukul 18.30, rombongan kembali ke hotel pukul 19.30 dan beristirahat pada pukul 20.30. Hari ketiga menjadi salah satu puncak pengalaman MY-TRIP, di mana siswa tidak hanya menyerap pengetahuan, tetapi juga membangun koneksi, mengekspresikan diri, dan memahami dunia secara lebih luas.

“Kami datang untuk belajar, tapi pulang dengan cara pandang baru,” ujar Mr. Elang Satria Putra Jatmiko.

MY-TRIP dan Urgensi Pendidikan Lintas Budaya

Di tengah era globalisasi, program seperti MY-TRIP menjadi relevan dalam menjawab kebutuhan pendidikan abad ke-21. Tidak cukup hanya memahami teori, siswa juga dituntut memiliki kompetensi lintas budaya, komunikasi global, dan kemampuan adaptasi.

Dengan pendekatan residency dan immersion, MY-TRIP menghadirkan pengalaman autentik yang sulit digantikan oleh metode konvensional. Hari ketiga membuktikan bahwa pembelajaran terbaik tidak selalu terjadi di dalam kelas—melainkan di antara manusia, budaya, dan pengalaman nyata

Ready To Start New Project With Intrace?

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.