Revolusi Rakyat
Karya: Ahmad Dzikry (8.3)
Di suatu negara bernama Insulindia, Mulyono, Seorang petani miskin yang berusia sekitar 37 tahun, ia hidup di desa terpencil bernama Desa Sukasamping, Saat itu negara Insulindia sedang mengalami kelaparan massal akibat krisis parah yang tidak segera berhenti. Ditengah krisis ini sayagnya para pejabat di negeri ini tidak memiliki empati terhadap rakyatnya yang sengsara. Mulyono sendiri punya dendam kepada pemerintah Kabupaten karena saat ia kecil rumahnya digusur dan dihancurkan tanpa biaya ganti. Pekerjaannya sebagai petani sama seperti budak karena hasil taninya akan dieksploitasi pemerintah pusat untuk kepentingan negara.
Suatu ia sedang bekerja disawah, dibawah teriknya matahari yang semakin panas setiap tahun ia bertahan dan bekerja untuk menafkahi istrinya dan anaknya yang sudah remaja. Dengan beratnya, ia menarik kerbau untuk membajak sawahnya, Ia dengan susah payah mengarahkan kerbau yang berat supaya dapat membajak sawah dengan benar, Mulyono menyeka keringat yang bercampur debu di wajahnya. Suhu di desa tersebut terasa seperti neraka yang siap membakarnya. Sudah empat jam ia menarik kerbau, seekor binatang yang kini tampak sama kurusnya dengannya. Sawah di hadapannya, yang seharusnya basah dan subur, kini retak-retak seperti kulit kering. Tanah yang ia bajak hanya menghasilkan debu. Hasil Panennya sendiri biasanya akan dikirim ke perkotaan dan tidak untuk dimakan warga setempat.
Saat matahari mulai condong ke barat, Mulyono pulang ke gubuknya. Istrinya, Siti, sedang mencoba memasak sisa singkong yang didapat dari ladang tetangga. Anak semata wayang mereka, Rina, yang baru berusia dua belas tahun, terbaring lemas di dipan. Wajahnya pucat pertanda kekurangan gizi yang buruk. Mulyono duduk di samping Rina, mengusap kening putrinya yang hangat. Ia merasa gagal. Sebagai kepala keluarga, ia tidak mampu memberi makan anaknya. Hatinya perih melihat penderitaan orang-orang yang paling ia cintai.
Di saat maghrib, Desa tersebut akhirnya sudah kehabisan bahan pangan sama sekali. Beberapa warga bahkan meminta makanan dari desa tetangga, namun ditolak. Pertemuan pun diadakan di balai desa, warga pun berdisukusi, Kepala desa Budi menerima saran tersebut. Ia menunjuk Mulyono untuk menuju kantor kecamatan dan memberi proposal bansos kepada camat di wilayah tersebut.
Keesokan paginya Mulyono pergi ke kantor Camat, ia menatap gedung kantor kecamatan yang kokoh di depannya. Bangunan itu terasa sangat mewah sekali. Dengan pakaian kerja yang lusuh dan sarung tangan bekas memegang bajak, ia merasa sangat kecil. Di tangannya, ia memegang proposal bantuan sosial yang sudah usang dan terlipat rapi. Inilah harapan terakhir warga desa. Mulyono pun diarahkan petugas menuju ruang pak Camat. Camat Hardiman, seorang pria 40 tahunan dengan kemeja batik sutra dan wajah yang tampak terawat, duduk di belakang meja mewah yang besar. Ia bahkan tidak beranjak dari kursinya ketika Mulyono masuk.Mulyono segera memberikan kertas tersebut.
Pak Hardiman pun membaca proposal itu dengan wajah mengkerut dan seperti sedang memikirkan sesuatu, Mulyono tetap sabar menunggu untuk pak Hardiman menjawab hingga akhirnya. Tanpa belas kasihan, Pak Hardiman menolak proposal tersebut, ia beralasan bahwa tidak ada dana dan bantuan dari pemerintah pusat sehingga ia tidak bisa memberi bantuan ke desa Sukasamping, Mulyono mencoba bernegosiasi dengan Pak Hardiman tapi sayangnya Pak Hardiman dengan lembut berkata untuk pulangs saja dan datang saat bantuan dari pemerintah tiba di Kecamatan.
Mulyono pun pergi dari Kantor Camat, hatinya sanga gundah setelah penolakan proposal tersebut, ia merasa bahwa harapan terakhir desa tersebut sudah pupus. Setibanya di Desa Sukasamping menjelang malam, Mulyono disambut oleh keheningan yang menyesakkan. Warga sudah menunggunya di balai desa, duduk dalam kelompok-kelompok kecil. Kepala Desa, Bapak Budi, mendekatinya dengan cemas. Para Warga bertanya tentang hasil rpoposal tersebut, dan Mulyono menjawab bahwa proposalnya ditolak.
Seketika, suasana balai desa berubah. Bisikan-bisikan keputusasaan dan amarah pecah. Seorang ibu menangis histeris. Beberapa pria muda mulai mengumpat ke arah pemerintah. Kepala Desa tampak sangat tua dalam sekejap, ia menundukkan kepala dan meremas topi jeraminya. Kemarahan Mulyono sendiri sangat membara, ia merasa bahwa pejabat kenyang diatas penderitaan rakyatnya. Kepala Desa yang mendengar itu pun tidak dapat melakukan apa- apa. Dengan Emosi yang terpendam ia berdiri ditengah kerumunan, ia berpidato.
“SAUDARA-SAUDARAKU YANG MULIA!”
“Mereka yang mengeksploitasi desa kita, tapi Mereka tidak sama sekali menggaji atau memberi bantuan kepada kita! Kita adalah petani! Kita yang menggarap bumi Insulindia! Kita yang menanam padi! Mengapa kita harus mati kelaparan di tanah kita sendiri? Kalau mereka tidak mau memberi kita makan, maka kita yang akan mengambil hak kita!”
“HIDUP RAKYAT!” teriak kepala desa
Bukan lagi sekadar protes atau permohonan. Ini adalah gerakan yang lahir dari keputusasaan, dipimpin oleh seorang petani yang hatinya hancur melihat anaknya kelaparan. Mulyono telah menyalakan api Revolusi Rakyat. Esok hari, Desa Sukasamping akan kosong, dan gelombang manusia yang marah akan mulai bergerak, membawa pesan perlawanan ke jantung kekuasaan. Rakyat sudah lelah untuk bersabar, dan mereka siap menjemput hak mereka yang dicuri.
Dua hari setelah penolakan proposal tersebut, Amarah Rakyat sedang dilaksanakan, mereka berkumul digedung pemerintah untuk melakukan revolusi. Di tengah kerumunan Mulyono menyadari bahwa Camat tidak akan keluar. Ia menunjuk ke gudang logistik kecamatan yang terletak di samping kantor. Gudang itu dijaga longgar, karena selama ini tidak ada yang berani mendekatinya.
Massa bergemuruh. Dalam sekejap, puluhan pemuda mendobrak pintu gudang yang rapuh itu. Dan di dalamnya, mereka menemukan kebenaran yang mengerikan: tumpukan karung beras berstempel bantuan pemerintah, kardus-kardus mie instan, susu formula, dan obat-obatan yang ditujukan untuk rakyat miskin. Logistik itu sudah tertimbun lama dan sebagian mulai membusuk. Kemarahan warga berubah menjadi kesedihan mendalam. Mereka tidak lagi berteriak ke Camat, tetapi meratap. Camat Hardiman, yang mendengar keributan, akhirnya dipaksa keluar oleh Kepala Desa Budi dan beberapa petugas yang takut kerusuhan akan semakin membesar. Wajahnya pucat pasi. Ia mencoba membela diri, tetapi tidak ada yang mendengarkan.
Saat Polisi dan TNI tiba, mereka tidak menemukan kerusuhan, tetapi ribuan rakyat yang duduk tenang di halaman kecamatan, memegang bukti kejahatan di tangan merekaz, yaitu berkas proposal yang ditolak. Melihat bukti nyata penyelewengan yang masif dan massa rakyat yang begitu damai namun terorganisir, Polisi dan Komandan TNI Distrik tidak punya pilihan lain. Mereka tidak bisa membubarkan rakyat yang hanya mengambil kembali makanan mereka. Camat Hardiman segera ditahan di tempat atas tuduhan penimbunan dan penyelewengan dana bantuan.
Malam itu, warga Sukasamping tidak lagi tidur dalam kelaparan. Mereka berbagi beras yang mereka ambil kembali dari gudang. Mulyono duduk di samping Rina, anaknya, yang kini makan dengan lahap. Api revolusi telah mereda, meninggalkan kehangatan keadilan. Kabar penangkapan Camat Hardiman dan penemuan gudang logistik yang membusuk itu menyebar cepat ke seluruh Insulindia. Kisah Mulyono, si petani miskin dari Desa Sukasamping, menjadi simbol perlawanan rakyat terhadap korupsi dan ketidakpedulian. Kejadian Revolusi kecil tersebut membuat terjadinya efek domino diseluruh negara Insulindia. Hingga akhirnya hampir semua pemerintah korup di Insulindia habis.


