
Kata Ibu, perempuan tidak bisa menjadi dalang. “Perempuan itu bisanya jadi sinden”, begitu katanya. Aku sering dengar dari Bapak dan Yangkung bahwa ada pula beberapa dalang wanita yang sebenarnya cukup terkenal. Bahkan Mbah Giyeng juga terbilang legendaris. Lantas? Mengapa keturunannya ini tak bisa?
Perkenalkan, namaku Rarasati Widyatmaka. Putri tunggal Keluarga Widyatmaka, sang legenda dunia pewayangan. Aku akrab dipanggil Rara atau Ra di rumah atau sekolah. Aku berusia 14 tahun. Dan mimpiku, adalah mengikuti jejak Mbah Giyeng Sri Ayu, salah satu leluhur keluarga ku yang sudah tinggal cerita. Sedikit berbeda dari kebanyakan wanita di keluargaku, daripada memilih untuk mejadi seorang sinden yang bernyanyi mengiringi musik gamelan, beliau lebih memilih untuk menjadi orang yang menceritakan kisah wayang itu sendiri, yaitu sang dalang. Yap, cita-citaku adalah menjadi seorang dalang wanita.
Bertahun-tahun lalu sudah kutanya tentang pendapat keluargaku soal ini. Walaupun Yangkung, Yangti, dan Bapak sudah setuju, tetapi tidak dengan Ibu. Tak pantas katanya. Karena pada saat itu aku masih kecil, ya sudah apa boleh buat selain menurut dan menunduk kecewa. Sebenarnya Simbah dan Bapak sangat mendukung cita-citaku itu. Bahkan aku sampai diajari sedikit secara diam-diam. Namun tetap saja, aku ingin membuktikan pada Ibu bahwa seorang wanita sepertiku pun bisa menjadi dalang. Namun, bagaimana?
“Ra, nduk, kesini sebentar.” panggil Yangti dari luar tengah. Sepertinya Yangti baru selesai berbicara dengan seseorang di luar tadi. aku sempat dengar ada kata ‘kompetisi’ dilontarkan oleh si lawan bicara tadi. Ada apa ya?
Daripada membuang waktu untuk memikirkan yang tidak-tidak, aku lebih memilih untuk memnuhi panggilan Yangti. Lagipula, ini bukan hal baru kan? Mungkin Yangkung diminta mengisi acara khusus lagi. Tapi kalau begitu kenapa aku dipanggil? Ah sudahlah nanti juga diberitahu, percuma kupikirkan sekarang.
Aku pun mulai berdiri dan berjalan ke ruang tengah. Kulihat Yangti duduk di sofa di depan televisi sambal memegang sebuah kertas. Semacam, poster? Atau pengunguman? Semacam itulah. Namun aku tak tahu pasti apa isinya.
Aku penasaran, namun tak sopan bila langsung bertanya. Tunggu dijelaskan saja deh.
“Ya Yangti?” Tanyaku setelah duduk di samping Yangti di sofa.
“Ini tadi Pak RT datang, katanya mau diadakan kompetisi dalang remaja se-kabupaten. Kamu tadi sempat diminta ikut, tapi ya Yangti bilang ‘saya tanyakan dulu’, kan kamu yang diminta ikut, ya kamu yang milih.” jelas Yangti sambil tersenyum. Aku senang Yangti pengertian.
Sejujurnya, aku mau ikut, tapi aku tahu Ibu pasti tak membolehkan. Tapi ini bisa jadi satu-satunya kesempatan agar aku bisa membuktikan pada Ibu bahwa aku layak untuk menjadi seorang dalang. Tapi kemungkinan besar apabila ibu tahu aku akan dimarahi. Ah ini pilihan yang membingungkan.
“ehmm.. ya, kalau dibolehkan Ra mau ikut, tapi Ibu nanti marah kalau tahu Ra ikut. Tapi menurut Ra bisa jadi ini kesempatan Ra untuk membuktikan ke Ibu bahwa ra bisa dan layak jadi dalang.” Jelasku pada Yangti. Aku sedikit terbiasa dengan orang tuaku memilihkan jalannya hidupku. Sehingga hal seperti ini sedikit membingungkan untukku.
Yangti tersenyum setelah mendengar penjelasanku. “Yo Ndak papa, Ibumu Ndak harus tau. Kalau kamu mau ikut, ya, ikut saja. Bapak sama Yangkung-mu juga paling seneng kalau kamu ikut. Ikuti kata hatimu aja.” Ujar Yangti menenagkanku. Yangti pun melanjutkan kalimatnya. “Kan Yangti sudah sering bilang ini, Rara pasti bisa! Apapun pilihannya Rara, Yangti mendukung”
Yangti benar. Kalau aku mau mencoba, pasti aku bisa. Lagipula, Bapak pernah bilang, mencoba itu setengah dari berhasil. Jadi, aku rasa tidak ada salahnya untuk mencoba bukan?
“Yasudah, Ra mau ikut!” Tegasku semangat. Aku harus percaya diri. Tak usah berharap menang, usahakan saja yang terbaik. Masalah hasil itu perkara belakangan.
“Nah, begitu dong! Harus semangat. Nanti Yangkung-mu pasti mau melatihmu. Lagipula, kamu sudah tau hal-hal dasarnya kan? Untuk sisanya pasti kamu mudah mengerti. Yangti yakin.” Pesan Yangti.
Kata Yangti, kompetisinya akan diadakan sekitar sebulan lagi. Bagus. Aku memiliki waktu untuk Latihan. Bukan bermaksud sombong, tapi jujur saja, itu sudah cukup untuk kugunakan Latihan bersama Yangkung.
“Masalah pendaftaran dan biayanya serahkan pada Yangti. Kamu fokus latihan saja.” Begitulah pesan Yangti.
Setelah kuberitahu soal kompetisinya, Yangkung langsung bersemangat mulai mengajariku. Begitu juga Bapak. Bapak juga sudah berjanji tidak akan membocorkan perkara ini pada Ibu. Syukurlah. Namun agar tidak mencurigakan, aku perlu pintar mengatur waktu. Pelajaran, nilai, serta prestasiku tidak boleh terpengaruh secara negatif. Kalau iya bisa gawat.
Hari-hari berlalu dengan cepat. Tak terasa minggu depan sudah tanggal pelaksanaan kompetisinya. Sebenarnya aku cukup percaya diri dengan kemampuanku. Setidaknya untuk tampil dan memberikan yang terbaik. Namun, masih ada sesuatu yang mengusik dalam lubuk hatiku.
“Yangkung.” Panggilku di tengah-tengah latihan.
“Ya? Kenapa Ra?” Jawab Yangkung sambil menoleh kearahku.
“Anu.. Ra ragu, tentang keputusan Ra ikut kompetisi ini. Nanti Ibu malah marah, atau kecewa, atau bahkan terkhianati. Ra nggak mau menyakiti perasaan Ibu.” Bisikku pelan.
Yangkung tersenyum lembut mendengarku berkata seperti itu. Yangkung pun memegang pundakku dengan perlahan, dan berkata “Nduk, dengarkan Yangkung. Kamu mau apa, itu pilihanmu. Selama kamu bisa mengambil tanggung jawab dari pilihan dan tindakanmu ya sisanya terserahmu.”
Yangkung memang ada benarnya. Aku juga punya mimpi untuk di gapai. Mungkin jalan yang aku tempuh bukanlah jalan yang terbaik, namun apa daya, hanya ini caranya agar bisa meyakinkan Ibu. Aku tak mau membuang mimpi dan cita-citaku hanya karena aku ingin menyenangkan orang lain. Rasanya masih salah, tapi tak apa lah, coba dijalani dulu.
“Oke. Ra sudah pede lagi! Ayo lanjut Yangkung.” Sorakku bersemangat. Ku tatap kain lebar yang menjadi layer itu dengan mata berbinar. Ya, aku harus bisa membuktikan ke Ibu bahwa aku layak.
Yangkun pun terkekeh dan mengusap pelan kepalaku. Kami pun lanjut berlatih.
Seminggu berlalu seperti sehari. Tak terasa sudah hari dimana aku mengikuti kompetisi dalang remaja se-kabupaten Sidoarjo. Kompetisinya berlangusng di sebuah Gedung dekat alun-alun. Ramai sekali orang yang datang. Pesertanya pun begitu. Dan, ngomong-ngomong, peserta yang gadis bukan hanya aku. Ada beberapa, ah tidak, sejumlah dari mereka yang juga gadis. Hal itu membuatku sedikit tenang. Setidaknya aku bukan satu-satunya perempuan disini.
Bapak, Ibu, Yangkung, dan Yangti, semuanya sudah duduk di tempatnya masing-masing. Ibu mau ikut acara ini karena memang keluarga kami diwajibkan untuk hadir. Yah, Namanya juga artis. Ibu masih belum tahu bahwa aku adalah salah satu dari ratusan peserta yang ada disini.
Jujur saja, aku gugup. Luar biasa gugup. Tidak, bukan karena aku akan tampil di depan banyak orang. Itu bukan hal yang baru bagiku. Namun, aku akan dilihat Ibu. Aku bisa mendengar batinku tersiksa hanya karena pikiran itu.
Akh, tenanglah Ra. Kamu nggak akan mengacaukan penampilanmu kok. Kamu sudah beruaha, kamu pasti bisa. Kamu sudah berjuang selama sebulan ini kan? Kamu pasti tidak akan berusaha sampai seperti itu kalau bukan untuk apa-apa kan? Pasti berhasil. Tak harus menang, buat Ibumu terpukau, itu saja sudah cukup.
Setelah sedikit sesi senam pernapasan dan segudang kata-kata penyemangat, akhirnya aku cukup tenang. Akhirnya, begini lebih baik.
Ku tatap wayang dengan gambar tokoh Srikandi yang kugenggam dengan tangan berkeringat dari tadi. Cerita yang akan kubawakan dalam kompetisi ini adalah kisah Lahirnya Dewi Wara Srikandi. Srikandi memanglah tokoh pewayangan favoritku. Dia adalah wanita yang kuat dan pemberani. Menurutku itu patut diacungi jempol. Jadi rasanya sayang bila tidak menggunakan kisahnya untuk kompetisi ini.
Penampilan demi penampilan pun berlalu. Dan, tibalah giliranku. Sial, aku masih saja gugup. Tarik napas, hembuskan. Rarasati Widyatmaka, kamu itu keturunannya dalang-dalang legendaris, kamu pasti bisa melakukan ini. Kamu harus percaya diri dan semangat.
Aku menghela napas untuk terakhir kalinya, sebelum menapakkan kaki ke panggung. Aku berjalan dengan kaki gemetar. Aku bisa merasakan tatapan Ibu menusuk punggungku. Dan benar saja, kulihat Ibu melihatku berdiri di panggung dengan ekspresi terkejut. Bisik-bisik penonton bisa terdengar dari seluruh gedung. Setelah memberi salam kepada para juri, tamu terhormat- yang termasuk keluargaku sendiri- dan para penonton, aku pun memulai pertunjukanku.
Pertunjukanku berjalan dengan mulus, semuanya sempurna. Ketika aku berdiri untuk mengucapkan salam penutup, ditengah ramainya tepuk tangan juri, keluargaku, dan para penonton, kulihat ekspresi Ibu yang masih terkejut dengan penampilan dan keberadaanku di panggung. Aku hanya bisa tersenyum dan mengucapkan salam penutup.
Aku turun panggung dengan kaki lemas. Haahh, semuanya sudah berakhir. Sekarang tunggu hasilnya. Aku tidak mau terlalu berharap. Lebih baik aku istirahat dan menenangkan diri untuk sekarang.
Setelah peserta-peserta lain menunjukkan penampilannya, tibalah waktunya pengunguman juara. Ini dia, penentuannya. Semuanya terdengar berantakan di telingaku. Aku tak bisa fokus mendengarkan jurinya. Bagaimana jika aku tak mendengar namaku dipanggil? Tapi aku tak perlu berharap kan?
Ditengah-tengah rentetan pikiran itu, aku tiba-tiba mendengar jurinya bersorak, “Dan Juara 1 adalaaahhh… Rarasati Widyatmaka, dengan Kisah Lahirnya Srikandi!”
Bersamaan dengan selesainya kalimat juri itu, para penonton pun bersorak-sorai. Aku masih tak percaya. Oke, mungkin penampilanku memang luar biasa, tapi aku tak berpikir sampai jadi begini. Tapi tetap saja, walau ini adalah sebuah kejutan, ini adalah kejutan yang menyenangkan.
Aku pun melangkah naik ke panggung untuk menerima piala, sertifikat, serta hadiah dengan senyum lebar terlukis di wajahku. Setelah ku telusuri, aku pun melihat Yangti, Yangkung, Bapak, bahkan Ibu dengan senyum bangga terlukiskan di wajah mereka. Ah, kamu berhasil Ra.
Setelah turun panggung dan penutupan acara, aku pun pergi menghampiri keluargaku. Setelah mendapat selamat, ciuman, dan pujian dari mereka, aku langsung berhadapan dengan Ibu. Sorot matanya masih tajam, namun senyum bangga di wajahnya tak bisa disembunyikan.
“Bu, ada yang mau aku bicarakan” ujarku mantap. Aku siap untuk mengahadapi Ibu sekarang.
Ibu mengelus lembut kepalaku, dan tersenyum lembut. Lalu Ibu berkata, “Ibu bangga padamu Ra. Kita bicarakan masa depanmu di rumah.”
Ditulis oleh : Bianca Keneshia Maritza (Siswi SMP Al Falah Assalam)