Belajar dari Dunia: Sehari Menjadi Pelajar di Malaysia hingga Menyusuri Cahaya Kuala Lumpur
Hari Kedua MY-TRIP bukan sekadar agenda, melainkan perjalanan rasa, pengalaman, dan cara pandang baru
Pagi di Melaka belum sepenuhnya terang saat alarm perjalanan berbunyi
Pukul 05.30, para peserta MY-TRIP (Malaysia – Young Travelers Residency & Immersion Program) mulai bersiap. Tidak ada suara keluhan, yang ada justru semangat yang perlahan terbangun. Hari ini bukan hari biasa. Ini adalah hari ketika mereka benar-benar “masuk” ke dunia yang selama ini hanya mereka bayangkan. Tas dirapikan, seragam dikenakan, hari kedua dimulai.
Menuju Sekolah: Dari Tamu Menjadi Bagian
Setelah sarapan sederhana di hotel, rombongan berangkat pukul 08.00 menuju Sekolah Menengah Kebangsaan Seri Pengkalan. Perjalanan pagi itu terasa berbeda. Tidak ada lagi rasa asing seperti hari pertama. Yang muncul justru rasa penasaran. Setibanya di sekolah pukul 08.30, para murid tidak hanya disambut, tetapi juga mereka diterima.
Hari itu, mereka bukan tamu. Mereka adalah bagian dari kelas. Di dalam ruang belajar, kursi-kursi diisi, buku dibuka, dan pelajaran dimulai. Guru menjelaskan, murid berdiskusi, dan para peserta MY-TRIP mengikuti alur itu, yaitu mengamati, mendengar, lalu perlahan ikut terlibat.
“Awalnya saya hanya ingin melihat. Tapi lama-lama ingin ikut menjawab juga,” cerita Ms. Aimi Dinara Cahyanto, sambil tersenyum mengingat momen tersebut. Bahasa Inggris dan Melayu terdengar silih berganti. Bagi sebagian peserta, ini adalah tantangan. Namun, justru di situlah letak pembelajarannya. Bukan hanya memahami pelajaran, tetapi juga memahami cara berkomunikasi.
Pelajaran yang Tak Tertulis di Buku
Waktu berjalan cepat. Tanpa terasa, jam menunjukkan pukul 12.00, dan kegiatan dilanjutkan dengan makan bersama di lingkungan sekolah. Namun, yang paling membekas bukanlah makanannya, melainkan interaksinya. Percakapan ringan antar murid lintas negara membuka ruang baru: tentang perbedaan, persamaan, dan rasa ingin tahu yang sama.
“Ternyata kami tidak jauh berbeda. Hanya lingkungannya saja yang berbeda,” ujar Mr. Redika Ahmad. Di luar materi pelajaran, peserta justru belajar tentang disiplin, cara menghargai waktu, dan bagaimana lingkungan sekolah membentuk kebiasaan.
Perpisahan yang Membuka Jalan
Pukul 13.00, kegiatan ditutup dengan closing ceremony. Ada senyum, ada rasa bangga, dan sedikit keengganan untuk berpisah. Namun, seperti perjalanan pada umumnya—setiap akhir adalah awal dari pengalaman berikutnya. “Hari ini kami tidak hanya belajar, tapi juga merasa diterima,” ungkap Ms. Keisya Nabila Ayu Nurcahyani.
Dari Sejarah ke Modernitas: Perjalanan Berlanjut
Siang itu, rombongan meninggalkan Melaka menuju Kuala Lumpur pada pukul 15.00. Perjalanan darat menjadi ruang hening—tempat setiap peserta mencerna apa yang telah mereka alami. Namun sore hari menghadirkan kejutan baru. Pukul 16.30, mereka tiba di Masjid Putra. Masjid dengan kubah merah muda itu berdiri megah di tepi danau. Angin sore berhembus pelan, membawa suasana tenang yang kontras dengan hiruk pikuk kota. Beberapa murid terdiam, menikmati momen.
“Tempat ini indah sekali. Rasanya damai,” kata Ms. Shima Ratu Kalingga.
Malam dan Cahaya Kota: Mimpi yang Terlihat Nyata
Malam tiba, dan perjalanan berlanjut. Setelah makan malam pukul 18.30, rombongan menuju destinasi yang selama ini hanya mereka lihat di layar: Menara Kembar Petronas. Pukul 19.30, menara itu berdiri di hadapan mereka—tinggi, terang, dan megah. Lampu-lampu kota menyala, dan untuk sesaat, semua terasa seperti mimpi yang menjadi nyata. Beberapa murid mengabadikan momen. Yang lain hanya menatap, mencoba menyimpan perasaan itu dalam ingatan.
“Saya pernah melihat ini di internet. Tapi melihat langsung… rasanya berbeda,” ujar Mr. Tristan Perdana Arya.
Menutup Hari, Membuka Wawasan
Pukul 20.30, rombongan tiba di Pacific Express Hotel untuk beristirahat. Hari yang panjang akhirnya berakhir pukul 21.00. Namun, bagi para peserta, ini bukan sekadar hari kedua.
Ini adalah hari ketika mereka:
-
belajar di ruang kelas yang berbeda,
-
berbicara dengan perspektif baru,
-
dan melihat dunia dengan cara yang lebih luas.
“Hari ini saya merasa benar-benar ‘belajar dari dunia’,” kata Mr. Elang Satria Putra Jatmiko.
Catatan Perjalanan: Lebih dari Sekadar Program
MY-TRIP bukan hanya tentang berpindah tempat. Ia adalah perjalanan batin—tentang keberanian mencoba, kesiapan beradaptasi, dan kemampuan memahami perbedaan. Di hari kedua ini, para murid tidak hanya menjadi pelajar. Mereka menjadi penjelajah. Dan dunia, perlahan, menjadi ruang belajar mereka


