Keinginan Terakhir Ibu untuk Miya
Prolog — Saat Dunia Masih Punya Dua Cahaya
Hujan sore itu turun perlahan, menimpa genting rumah kecil di ujung jalan.
Di sebuah bangku taman di pinggir jalan,seorang perempuan duduk sambil menatap langit yang kelabu. hatinya sedang gundah seperti sebotol teh yang mulai dingin di genggaman tangan nya.
Ia tahu tubuhnya tidak lagi kuat untuk menghadapi kenyataan ini,Nafasnya berat, kulitnya dan bibirnya pucat pasi, ia teringat perkataan dokter sebelum nya dengan nada datar, “Sebulan, paling lama.”
Namun pikirannya bukan tentang dirinya. Yang terus terbayang hanya wajah kecil anaknya — Miya, gadis enam tahun yang keras kepala tapi berhati lembut.
“Siapa yang akan merapikan rambutnya? Siapa yang akan menenangkannya saat menangis? Siapa yang akan memarahi dan menasehati saat dia melakukan sesuatu yang salah dan siapa yang akan menemani dirinya tumbuh dewasa.” Batinnya menyeruak. Pertanyaan-pertanyaan itu menumpuk di dadanya, menyesakkan,sakit lebih dari penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Ia berdiri dari kursi putih itu dan mulai berjalan dengan langkah yang lunglai sepulang dari rumah sakit. Jalanan yang sepi, langit sore yang mendung dengan rintik hujan yang turun seolah ikut
menangis mewakili nya. Ia berjalan dan mulai memandang pemandangan di depannya.
— sebuah toko tua yang tak pernah ia sadari kehadirannya sebelumnya.
“Aku tidak pernah tahu di sekitar sini ada sebuah toko antik yang indah. Katanya pelan.
toko bercat putih dengan aksen kayu itu,mempunyai jendela kaca yang besar sehingga nampak terang dengan beberapa barang yang terlihat mewah dan antik didalamnya.
Lampu toko tersebut bersinar paling terang di ujung jalan ini. terasa hangat di antara deburan hujan, dan papan kayunya bertuliskan samar.
“Toko Pengabul Keinginan Terakhir.” Perempuan itu berhenti. Hatinya bergetar, seperti ada sesuatu yang memanggil.
Ia masuk, membawa seluruh sisa harapannya, dan malam itu — satu keinginan diucapkan dengan air mata: “Aku mohon… kirimkan seseorang untuk mencintai anakku seperti aku.
Agar ia tidak merasa kehilangan apa pun, bahkan setelah aku pergi.” Dan dunia pun mendengarnya.
Mulai saat itu, dua cahaya menyala untuk satu anak kecil: satu dari surga dan satu dari bumi.
-Ingatan yang kabur
Sinar matahari mulai mengintip dibalik langit dengan kicauan burung yang tak henti-henti.
miya yang tertidur dengan selimut yang tidak lagi beraturan itu mulai menggeliat dan perlahan lahan membuka kelopak matanya.sesaat ia rasakan sinar matahari dari balik jendela seakan memeluk tubuh nya yang mungil. Sesaat dia mulai mengarahkan pandangan ke arah jam yang terpasang di dinding kamar. Sontak Ia berlonjak kaget ketika menyadari bahwa dirinya telat bangun. Hal yang dilakukan setelahnya yaitu berlari terbirit-birit keluar kamar dan menemui ibunya yang sedang memasak di dapur.
“Ibu!!!! Kenapa tidak bangun kan aku dari tadi sihhh. Kalau aku terlambat lagi bagaimanaaa??” Ucap Miya dengan lantang pada ibunya.
“Iya iya….. ibu sudah selesai memasak untukmu, cepat makan lalu mandi jangan marah-marah nanti tidak cantik lagi.” Jawaban ibunya itu masih sedikit membuatnya kesal pasalnya sang ibu memang tidak pernah membangun kan nya walau telat.
Setelah itu, Miya bergegas mengambil makan. dengan cepat ia menyadari bahwa menunya adalah
sayur tumis brokoli yang tidak ia suka.”ibu!kenapa harus brokoli aku kan tidak suka”ucapanya merengek.
“Maaf ya sayanggg tapi ibu mau putri ibu sehat dan banyak makan sayur. Lagipula ada telur juga yang bisa kamu makan” ujar sang ibu Santai nan lembut. Miya yang tadi menggerutu hanya bisa pasrah.
Sudah 1 jam ia duduk dikursi kelas nya.gadis yang berumur 9 tahun itu tampak tidak fokus dengan pelajaran yang diberikan gurumya.pikiranya masih terbayang-bayang akan mimpinya tadi malam. Ia memimpikan ibunya. Namun,di mimpi itu ibunya sangat berbeda dengan ibu yang selama ini dia
kenal. Bukan wajahnya maupun tubuhnya yg berbeda melainkan perangai dan sikapnya.
Sebenarnya, sudah beberapa kali Miya memimpikan hal hal seperti ini.terkadang dia memimpikan ibunya yang memarahinya saat pulang sekolah karena sepatu dan baju seragam nya yang kotor dengan noda ataupun saat ibunya itu membangunkannya dengan teriakan yang keras saat ia telat bangun. Ada juga saat ibunya, memaksa Miya untuk belajar dengan serius, di mana semua ini tak pernah dilakukan oleh ibu yang selama ini dikenal nya.
Saat ia asik melamun, tiba-tiba suara seorang guru membuyarkan lamunannya. “Miya, kenapa kamu dari tadi melamun? Cepat basuh muka mu dulu!” kata sang guru. Sontak ia berdiri dan mengucapkan maaf, lalu berjalan keluar kelas dan bergegas ke kamar mandi.
-Mimpi dan Bayangan
Beberapa minggu berlalu.
Miya mulai sering termenung di kamar, memandangi beberapa foto-foto lama di rak kamarnya
Ada satu foto yang membuatnya merasa aneh. Ia masih kecil, sekitar enam tahun. Dalam foto itu, ia duduk di pangkuan ibunya. Tapi rambut ibunya lebih pendek, matanya berbeda—terlihat lelah, dan tegas tapi penuh semangat.berbeda dengan ibu yang dia kenal yang bermata teduh dan lembut Terlihat anggun.
“Ibu…” bisiknya suatu malam, “kenapa aku ingat hal-hal yang aneh?”
Ibu yang kini bersamanya datang dan duduk di tepi ranjang. “Aneh bagaimana, sayang?”
aku bermimpi tentang ibu,tapi dengan sifat yang beda. Ada beberapa kejadian yang sangat nyata di mimpi itu seperti memang pernah terjadi.kadang hal itu tiba tiba terlintas bahkan saat aku tidak tidur itu membuat kepalaku sakit Bu” katanya dengan nada sedikit ragu.
Wajah ibunya berubah sekilas, tapi dengan cepat kembali tenang.
“Itu cuma bunga tidur, Miya. Kadang otak kita suka bermain-main, dan menciptakan cerita sendiri, apalagi kalau kamu lelah.” ucap ibunya dengan senyuman yang terukir cantik diujung bibir.
Namun Miya tahu — ada sesuatu yang disembunyikan oleh ibunya.
Hari-hari berikutnya, pikirannya masih tak tenang
Banyak ingatan yang mulai dia ingat yang terasa sangat asing.
Ia mulai memperhatikan hal-hal kecil yang tidak ia anggap aneh sebelum nya.
Ibunya tidak punya foto masa muda di rumah, tidak pernah bercerita tentang masa lalu,
dan setiap kali Miya menyinggung tentang waktu dulu. Sang ibu, hanya tersenyum dan berusaha mengganti topik. Hingga suatu malam, ketika hujan deras turun, Miya terbangun oleh mimpi yang sangat jelas. Ia melihat dirinya kecil, tubuhnya penuh perban.
Di samping ranjang, seorang perempuan yang sama dengan ibunya menggenggam tangannya sambil berbisik dan menangis, “Maafkan Ibu, Miya… Ibu nggak bisa lama lagi.” Saat terbangun, Miya menangis tanpa tahu kenapa.
Air mata itu keluar begitu saja, seolah hatinya mengingat sesuatu yang otaknya belum bisa jelaskan.
hatinya menghangat namun terbersit sedikit ketakutan
—
— Pertanyaan yang Tak Bisa Disembunyikan
Pagi harinya, Miya menatap ibunya lama-lama saat sarapan.
dia memberanikan diri menanyakan hal ini karena merasa sangat yakin bahwa ada yang aneh dengan sang ibu.
“Bu,” katanya pelan, “boleh aku tanya sesuatu?” “Tentu saja, sayang.” Jawab sang ibu.
“Siapa ibu sebenarnya?”
Sendok di tangan ibunya berhenti bergerak. “Maksudmu?”
“Aku ingat Ibu lain. Wajahnya sama, tapi rasanya beda. Aku ingat rumah sakit, aku ingat lampu, aku ingat suara Ibu nangis. Tapi itu bukan Ibu yang ini.”
“apa yang terjadi padaku bu.ingatan yang tak pernah ku tahu mulai ku ingat”
Hening menyelimuti meja makan.Miya menatap ibunya, berharap penjelasan, tapi yang ia dapat hanyalah tatapan mata yang bergetar dan suara napas yang berat.
Akhirnya, wanita itu menunduk dan mulai berkata dengan pelan. “Miya… mungkin sudah waktunya kamu tahu.”
Ia berdiri, mengambil cardigan di sofa, dan berkata,
“Ayo ikut Ibu malam ini. Ada tempat yang harus kamu lihat.” Miya bingung, tapi ia menurut dan berjalan mengikuti ibunya.
……………………………………………….
Malam turun cepat. Hujan sudah reda, tapi udara masih lembap.
Mereka berjalan menyusuri jalan kecil yang sunyi, hanya diterangi lampu-lampu tua.
Di ujung jalan, berdiri sebuah toko antik yang cantik dengan papan kayu bertuliskan samar: “Toko Pengabul Keinginan Terakhir.”
Lampu toko redup, namun hangat.
Di dalamnya, aroma lilin dan kertas tua memenuhi udara.
Seorang pria tua dengan rambut perak menatap mereka dari balik meja.
“Akhirnya datang juga,” katanya lembut. “Anak kecil yang dulu diselamatkan oleh keinginan ibunya.” Miya menatap pria itu dengan kening berkerut.
“Apa maksudnya?”
Pria tua itu memandang wanita di samping Miya.
Wanita itu mengangguk pelan. lalu hal selanjutnya yang dilakukan wanita ini mengejutkan miya.ia berlutut di hadapan Miya.Dia berkata. “Miya… aku bukan ibu kandungmu.”
Suara itu lembut, tapi getarannya nyata.
“Ibumu dulu sakit parah. Kanker stadium empat. Saat kamu berumur enam tahun, kamu kecelakaan dan kehilangan ingatan. Ibumu tahu waktunya tidak lama. Dia datang ke toko ini, memohon agar ada seseorang yang bisa menggantikannya merawatmu. Agar kamu tidak merasa kehilangan ataupun merasa sendirian” Miya terpaku. Dunia seperti berhenti berputar.
“Jadi… selama ini Ibu… palsu?” suaranya serak, hampir tak keluar.
Wanita itu meneteskan air mata. “Tidak, Miya. Aku memang bukan Ibumu yang melahirkanmu, tapi setiap pelukan, setiap nasihat, setiap cinta yang kuberikan—semuanya nyata.”
Pria tua itu lalu mengambil sebuah amplop kuning tua dari lemari kaca dan menyerahkannya kepada Miya. “Ini… surat dari ibumu yang asli. Ia menitipkannya untuk diberikan padamu, saat kau sudah mengingat siapa dirinya”
— Surat Terakhir dan Keputusan
Tangan Miya gemetar saat membuka amplop itu. Di dalamnya, selembar kertas dengan tulisan tangan halus.Ia membaca perlahan, air matanya jatuh di setiap baris.Untuk Miya, anak Ibu yang paling kuat. Jika kamu membaca surat ini, berarti kamu sudah mengingat Ibu. Ibu tidak pernah benar-benar pergi. Ibu hanya ingin kamu tidak merasa sendirian setelah Ibu tiada.
Perempuan yang kini menjagamu adalah orang baik. Dia bersedia merawat dan menemani mu agar kamu bisa tersenyum lagi. Sayangi dia, seperti kamu menyayangi Ibu. Karena cintanya berasal dari cinta Ibu juga. Ibu mencintaimu, Miya. Selalu. Bahkan dari tempat yang tak bisa kamu lihat.Miya memeluk surat itu sambil terisak.
Ia ingat ibunya dahulu selalu memarahi nya dan berkata “Miya, jangan nakal dunia nggak akan selalu lembut padamu. Ternyata, itulah cara sang ibu mengajarkan putrinya untuk berdiri tegak — menjadikannya mandiri, kuat, dan siap menghadapi dunia, bahkan ketika kelak sang ibu harus pergi meninggalkannya.ia menyadari betapa besar sayang sang ibu yang tak sempat dibalas nya.
Ia menatap wanita yang kini menangis di hadapannya, lalu mendekat dan memeluknya erat.
“Ibu… aku nggak peduli kamu siapa. Kamu yang menemaniku saat aku sakit, saat aku marah, saat aku sendirian. Itu cukup. Kamu tetap ibuku.”Wanita itu menahan tangisnya, membalas pelukan Miya dengan tangan yang bergetar. “Terima kasih, Miya. Ibumu pasti bahagia mendengarnya.”
Malam itu, mereka berjalan pulang dalam diam. Di langit, hujan kembali turun lembut, seolah ikut menangis.Namun di dada Miya, sesuatu terasa tenang—untuk pertama kalinya sejak lama.
Ia kini tahu, kasih seorang ibu tidak hanya lahir dari darah, tapi dari cinta yang tak pernah berakhir. Dan di rumah kecil itu, Miya tumbuh bahagia bersama ibu pengganti yang dikirim oleh Toko Pengabul Keinginan Terakhir—ibu yang mungkin palsu di dunia, tapi nyata di hatinya.
Tamat.
Epilog — Surat yang Tak Pernah Habis
Waktu berlalu.Musim berganti, dan gadis kecil itu kini tumbuh menjadi remaja yang lembut.
Namun setiap kali hujan turun, Miya masih menatap langit dengan perasaan yang sama — rindu, hangat, dan tenang. Di laci kecil kamarnya, tersimpan sepucuk surat yang mulai pudar warnanya. Surat dari ibunya yang asli — kertasnya sudah menguning, tapi huruf-hurufnya tetap hidup di hatinya. Kadang ia membacanya lagi, perlahan, seperti membacakan doa.Ia kini tahu bahwa cinta tak selalu hadir dalam satu bentuk. Ada cinta yang menegur dan menuntun,ada cinta yang diam tapi menjaga dari jauh, dan ada cinta yang tetap bertahan meski waktu telah menutup segalanya.
Setiap kali ia memeluk ibunya yang sekarang, Miya tahu — dalam pelukan itu, ada dua hati yang menyatu:satu dari ibu yang telah pergi,dan satu dari wanita yang memilih untuk tinggal.
Dan mungkin, di suatu tempat jauh di atas sana, ibunya tersenyum, melihat anaknya tumbuh bahagia bersama cinta yang ia titipkan.Karena bagi Miya, rumah bukanlah tempat,
tapi rasa — rasa aman, rasa dicintai, dan rasa tidak pernah benar-benar ditinggalkan.
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.


