Tentang kita yang Masih Bermimpi

Written By :

Category :

Karya Siswa

Posted On :

Share This :

Tentang kita yang Masih Bermimpi

(karya Azalea Rayya 7.1)

 

Saat lampu merah menyala, ayah pun menghentikan mobilnya. Suasana hening, diiringi oleh alunan lagu dari radio. Tiba-tiba, sekelompok anak muda mendekat. Mereka menyanyi, sambil

memetik ukulele dengan nada yang tak selaras. Mereka semua terlihat lelah, tetapi raut wajahnya tetap saja menunjukkan senyuman hangat dan tawa sederhana.


“Kenapa mereka melakukan itu, yah? Mereka selalu tersenyum, tetapi mereka terlihat lelah. Bukankah lebih baik untuk istirahat terlebih dahulu?” tanyaku, penuh dengan rasa penasaran.

Ayahku mengalihkan pandangannya dari jalan, ia menatapku dengan tatapan halusnya.

“Mereka pasti sedang berusaha untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Keinginan itulah yang disebut sebagai “mimpi”, nak. Sebesar apapun mimpi itu, pastinya akan mereka dapatkan jika berusaha keras.”


Jujur, aku tidak paham dengan apa yang ayah katakan. Aku hanya mengangguk dan terdiam. Lampu hijau pun kembali menyala.


Namaku Aluna. Kata orang, namaku cantik seperti bulan yang bersinar di malam hari. Tetapi, aku merasa diriku tidak mencerminkan nama itu. Di sekolah, aku bukan siapa siapa. Aku

bukanlah orang yang bodoh, tapi aku juga tidak cukup untuk dikatakan “pintar”. Aku bukanlah orang yang atletik, maupun artistik. Seakan akan, dunia bekerja sama untuk menyeimbangkan

satu garis, agar aku berada tepat di tengah. Kadang aku bertanya kepada diri sendiri, apakah kau belum menemukan bakatmu, atau memang tidak mempunyai bakat? Aku suka memikirkan

banyak hal. Masa depan, arti dari kehidupan, maupun mimpi apa yang ku inginkan. Ya, sejujurnya aku juga bingung, apa yang aku inginkan? Aku bahkan tidak bisa mahir dalam apapun, semua “mimpi” itu pasti mustahil.


“Aah… sudahlah, apa gunanya aku memikirkan hal seperti itu? Mungkin saja, aku memang

ditakdirkan untuk tidak memiliki bakat.” Aku berbisik di kesunyian malam, tenggelam dalam kegelisahanku sendiri.


Andai saja aku bisa melepaskan hal itu dengan mudah, seperti apa yang telah ku ucapkan. Tetapi, sungguh aku sangat peduli terhadap hal itu. Aku khawatir, bagaimana jika aku mengecewakan

orang yang ku sayangi? Bagaimana jika mereka menyadari betapa tidak bergunanya aku ini?

Berbagai cara telah ku coba untuk melanjutkan hidup tanpa terbebani pikiran itu. Tapi akhirnya, aku pasrah. Aku tetap saja bertanya pada diriku setiap malam, “Apa mimpi yang kira kira bisa kamu capai? Apa yang bisa engkau banggakan dari dirimu?” pertanyaan itu menghantuiku.

Suatu hari, aku sedang duduk diam di sebuat taman, mengulang materi yang telah aku pelajari di sekolah. Tiba tiba, seorang pria tua menghampiriku, dan duduk di sebelahku. Aku merasa sedikit tidak nyaman, tetapi aku membiarkannya. Dia berbicara kepadaku dengan nada yang lembut, dan itu.. terdengar familiar bagiku.


“Kamu terlihat lelah, nak.. tidak mau istirahat dulu?” ucapnya sambil tersenyum ramah padaku.

“Ah, tidak usah pak. Saya memang sengaja datang kesini untuk mencari tempat belajar yang tenang.” Aku menjawabnya, dengan berusaha terdengar sopan.

“Oh, bapak mengganggu ya? Maaf ya.. ini biasanya tempat main anak panti, mangkanya saya kesini, nungguin mereka.”


Setelah mendengar itu, aku pun merasa bersalah sudah berprasangka buruk kepada pria itu. Aku pun penasaran dengan panti yang ia maksud.


“Bapak kerja di panti itu?” aku bertanya padanya.

“Tidak.. bapak cuma penjaga warung, tapi kalau ada anak panti, bapak biasanya bagiin jajan ke mereka. lihat mereka seneng itu udah bikin hati bapak adem rasanya..”

Setelah mendengar itu, aku sangat yakin bahwa pria ini adalah orang yang sungguh mulia hatinya. Aku semakin penasaran, dan melupakan tujuan utamaku datang ke taman ini.

“Dulu, bapak pengennya jadi damkar.. bapak kepengen banget.. keren gitu kan selamatin orang, hehe.. tapi yaa, namanya belum rezeki. Orang tua saya belum bisa biayain sekolah, harganya semakin naik.. akhirnya bapak terpaksa jualan dijalanan.” Pria itu menceritakannya seakan akan

aku adalah anaknya sendiri. Anehnya, aku merasa sangat nyaman berada disampingnya, walaupun baru bertemu. Setelah mendengar ceritanya, aku sadar suatu hal. Semua orang di dunia ini pasti punya mimpi yang besar, bahkan, bapak ini juga dulunya anak kecil yang memiliki mimpi yang sungguh sangat besar, mengalahkan luasnya langit. Dia belum tau pasti apakah mimpi itu bisa digapai, atau tidak. Tetapi, dia tetap bermimpi. Saat sedang asik berbincang, anak anak panti yang ia sebut pun datang. Bapak itu menyambut anak anak itu dengan hangat,

memberikan mereka permen, dan camilan lainnya. Aku tidak bisa menahan, dan ikut bermain bersama adik adik kecil itu.


Hari, minggu, dan bulan berlalu. Aku semakin sering mengunjungi taman hanya untuk bermain bersama anak anak. Ini pertama kalinya aku merasa sangat bahagia dalam beberapa waktu

terakhir. Aku pun melepaskan semuanya hanya untuk berbagi cerita kepada mereka. tanpa aku sadari, disitulah letak dimana aku mulai terbawa arus. Nilaiku semakin menurun, karena aku

tidak terlalu memperhatikannya. Aku lebih mementingkan dengan kebahagiaan yang ku rasakan saat bermain bersama anak panti.


Hari pengambilan rapor pun tiba. Ayah pulang kerumah dengan wajah kecewa. Ia menghampiriku, dan duduk di ujung kasurku.


“Aluna, kamu ada masalah apa? Kalau kesusahan, bicara saja sama ayah”

Dengan itu, aku merasa sangat bersalah, dan bingung di waktu yang sama. Selama ini, aku telah meninggalkan pendidikan untuk membahagiakan orang lain, dan diriku sendiri. Akhirnya, aku pun menceritakan semuanya pada ayah.

“Ayah, aku sungguh minta maaf, aku sangat ceroboh untuk membiarkan nilai ku jatuh begitu saja.” aku memeluknya, erat. Mengekspresikan, betapa takutnya aku untuk mengecewakan dia. Ayah membalas pelukanku, tanggannya terasa kaku. Ia hanya terdiam, tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya.

“Nak,” dengan pelan, ia menjawab pernyataan maaf ku. “ayah tidak marah karena nilai mu jelek.. ayah cuma takut dengan masa depanmu saja.” Kalimat itu menusukku dengan cara yang

aneh. Kedengerannya seperti meremehkan, tapi memang benar. Nilai itu akan sangat berguna untuk masa depanku.


Hari hari setelah itu, aku mencoba untuk memperbaiki semuanya. Aku belajar lebih giat, tapi

tanpa meninggalkan taman dan anak panti. Aku belajar untuk menyeimbangkan, bukan memilih. Iya, aku masih gagal, aku masih merasa lemah. Tapi kegagalan itu bukan berarti aku tidak pantas bermimpi, kan? Dan entah mengapa, aku baru mengerti apa yang ayah ucapkan padaku dulu.

Mungkin.. apa yang membuat manusia tetap disebut manusia adalah kemampuan mereka untuk terus bermimpi, bahkan walaupun dunia tampak berat.


Sekarang aku paham, mimpi bukan tentang seberapa besar hasil yang kita capai, tapi tentang

bagaimana kita terus berjalan meski jatuh berkali kali. Setidaknya, aku sudah tau bahwa mimpi itu tidak ada batasannya. Aku tau arah langkahku dan itu sudah cukup.

Ready To Start New Project With Intrace?

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.